Rumahku, Surgaku
- Standar Hidupku
- Menjungkir Balik Logika Nikah
- Kesetiaan
- Baiti..Jannati..
- Ayah
- The Great Power Of Mother
- Waladin Sholih
- Ridhanya, Ridho-Ku
- Banyak Anak Banyak Rejeki
- Apa Salah Wanita Berkarir
- Selingkuh
- Tetangga
- Sahabat
- Yatim
Standar Hidupku
" Tiga kunci bahagia para lelaki: Istri yang shalehah, Kendaraan yang canggih, dan rumah yang kondusif"
Konon, meski tak tertulis sejak lama orang jawa mempunyai standar kesuksesan yang disepakati bersama. Orang dikatakan telah sukses dalam hal kehidupan ketika orang tersebut telah berhasil meraih lima hal, yaitu garwo (Istri), pusoko (pusaka), wismo (rumah), turonggo (kendaraan), dan kukilo (hobi).
Entah sejak kapan propaganda standar hidup itu ada di masyarakat kita, yang jelas belasan abad silam ternyata Rasulullah telah mengungkapkan standar hidup yang hampir sama dengan standar hidup yang disepakati masyarakat kita. Rasulullah Saw bersabda; "tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki; istri yang salehah, yang jika dipandang membuatmu semakin sayang, jika kamu pergi membuatmu merasa aman karena bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu, kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana pun pergi, rumah yang lapang, damai, penuh kasih sayang." (HR. Abu Daud).
ISTRI SALEHAH
Imam Ali bin Abi Thalib berkata ketika ditanya tentang istrinya Fatimah Az Zahra,
Bila kupandangi dia,
Hilang segera duka dan lara.
Setiap keindahan yang tampak oleh mata, itulah perhiasan dunia. Namun yang paling indah di antara semua, hanya istri salehah perhiasan terindah. Hanya istri yang beriman bisa dijadikan teman, dalam tiap kesusahan selalu jadi hiburan. Hanya istri yang salehah yang punya cinta sejati, yang akan tetap setia dari hidup sampai mati, bahkan sampai hidup lagi. heee...maaf itu syair lagunya Bang Haji Roma Irama.
Ya, tentu kita merindukan istri yang sepulangnya kita dari letihnya kerja, ia tidak pernah lupa menyambut dengan ketulusan senyumnya. setiap kondisi disikapi dengan indah oleh kalimat bijak, nada lirih, kelembutam jiwa, dan penuh kesyahduan dirinya. ketika kerja begitu melelahkan, ketika banyak masalah terjadi di kantor, ketika dagangan banyak yang nggak laku, istri menyambut dengan kalimat yang menentramkan, "Namanya juga kerja, Bang. Mungkin Allah sedang ingin menguji seberapa tingkat kesabaran kita."
Alangkah rindu kita menyambut percikan air cinta darinya yang dipercikkan ke wajah kita di sepertiga malam terakhir saat kita begitu lelap. Ia dengan senyuman berdiri di depan kita sambil berkata, " Yank, tahajud yuk!"
"...dan Allah Merahmati seseorang wanita yang bangun pada malam hari untuk menunaikan shalat malam. Dia bangunkan suaminya dan jika sang suami enggan ia percikkan air ke wajahnya." (HR. Abu daud)
Tidakkah rindu saat kita menyaksikan rumah tangga Rasulullah Saw, yang setiap detiknya adalah kebahagiaan. Tentu kita merindukan, rindu dengan senyuman indah Rasulullah yang dengan jujur dalam balik sempit beliau, namun masih bisa berkata, Baiti Jannati, Rumahku laksana surga bagiku.
Sungguh kita merindu, merindu istri seperti Aisyah yang ketika ditanya apa hal yang paling memesona dari semi tercintanya, dengan isak tangis dan suara lirih ia berkata, Kaana kullu amrihi ajaba, semua perilakunya menakjubkan.
Kita juga merindu istri yang bisa menjaga kehormatannya saat kita meninggalkannya di rumah. Sebagaimana Allah pernah bersabda."..Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taan dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). (QS. An-Nisa: 34)
Kendaraan yang Bisa Mengantar ke Mana Pun Pergi
Dalam kultur masyarakat Jawa, salah satu simbol kesuksesan terwujud dengan memiliki turonggo atau kendaraan tunggangan. Kalau zaman Rasulullah berwujud unta, keledai, atau kuda. Tentu saja saat ini ia bisa berwajah Mercedez, BMW, Jaguar, Chevrolet, Lamborgini, atau mungkin Ferrari.
kalimat Rasulullah begitu tinggi,"Kendaraan yang bisa mengantar ke mana pun pergi." Sedemikian pentingkah kendaran bagi kita? Ya, rasulullah menempatkannya dalam posisi istimewa sebagai salah satu standar yang harus dipenuhi seorang muslim. Hal ini signifikan. Bukan bertujuan untuk bangga-banggaan, apalagi niatnya untuk kesombongan. Kendaraan bertujuan untuk menunjang aktivitas ibadah, mempercepat pengembangan diri, dan pemudahan jalan dakwah.
Untuk meraih ketiganya, tentu kita butuh mobilitas yang cukup tinggi. Rasul memiliki Al-Qashwah, unta putih yang tangkas, berkualitas tinggi, gesit, sangat sehat, dan kecepatannya mengagumkan. Beliau juga memiliki Duldul, Keledai hadiah dari Maqaiqus yang sangat kuat dan kukuh jalannya, Bahkan berumur panjang sampai masa kepemimpinana Mu'awiyah Rahimakumullah. Kuda beliau juga bertangkas, tercepat, dan tergesit.
kalau begitu untuk mempermudah ibadah kita kepada Allah kita harus punya yang tercanggih donk! Tidak sepenuhnya benar. Aktivitas ibadah sesuai kesanggupan. Nah, kalau belum memiliki Marcedez, BMW atau Ferrari bolehlah kita bersenandung ria bersama Suara Persaudaran:
Inilah dia kuda beroda dua
Kuda tunggangan tercangih milik kita
Berlari dengan kecepatan sahaja
Memburu waktu alternatif yang ada
Sebuah Kendaraan motor roda dua
Buatan pabrik Honda atau Yamaha heee
Rumah yang lapang, Damai, dan penuh Kasih Sayang
"Sebaik-baik biaranya seorang muslim adalah rumahnya." (Abu darda' radyiyallahu anhu)
Ukuran yang dianjurkan bukan keunikan, bukan kemegahan, apalagi kemewahan. Bukan itu. Seorang muslim tak ada waktu untuk bermewah-mewahan dalam hidup. Tidak ada untungnya, bahkan ia rsumber kesombongan dan sumber rasa dengki. rumah yang dianjurkan oleh rasulullah adalah yang lapang, damai, dan penuh kasih sayang.
Lapang, cukup menampung anggota keluarga dengan leluasa. Cukup untuk jemaah yang agak banyak, mungkin bisa dijadikan sebagai musala alternatif. Juga tidak perlu menyewa gedung jika ingin mengadakan kajian rutin. Sebagaimana termaktub dlam Al-Qur'an,"...Jadikanlah rumah-rumahmu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta birakanlah orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 87)
Damai, memang begitulah fungsi sebuah rumah. Tempat peistirahatan yang damai dan menengkan. Tapi kedamaiannya tidak melalikan. rumah kita berfungsi sebagai tempat istirahat dan mengumpulkan energi baru untuk beraktivitas di hari esok.
Terakhir, rumah harus penuh kasih sayang. rumah kita adalah madrasah cinta. tempat terbaik untuk menyuburkan benih kasih sayang antara orangtua dengan putra-putrinya. Tempat menumbuhkan benih cinta seorang suami kepada istrinya. Begitu pula sebaliknya.
Semoga tulisan ini bisa memberi motivasi bagi kita semua agar menjadi insan yang berkualitas dan selalu bersyukur kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar